A Man With Millions Surprise

kapanlagi.com

Juan Felix Tampubolon, S.H., M.H. – Advokat

Terkejut, surprise.    Itulah reaksi yang muncul ketika saya mengetahui bahwa rekan Otto Cornelis Kaligis akan meng­undurkan diri dari dunia litigasi, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-60, 19 Juni 2002. Sebenarnya, saya tidak mengetahui alasan yang mendorong rekan mengambil keputusan yang luar biasa itu. Namun, surprise adalah suatu hal yang selalu melekat dengan sosok rekan O.C. Kaligis. He is a man with millions of surprises.

Dengan mundurnya rekan O.C. Kaligis dari dunia litigasi, maka rekan-rekan seprofesi dan rekan-rekan profesi terkait lainnya, di samping banyak yang merasa lega karena kehilangan ‘ganjalan’, namun juga lebih banyak yang harus bisa membiasakan diri dan meneri­ma untuk kehilangan satu tokoh fenomenal dalam dunia litigasi.

Rekan O.C. Kaligis yang saya kenal adalah sosok yang super dinamis. Hampir setiap kiprahnya selalu menjadi perhatian masyarakat. Tidaklah heran apabila sosok rekan selalu menjadi obyek pembicaraan untuk direka-reka, apakah akan dijadikan nominasi dalam menangani suatu perkara dengan “klasifikasi atas” yang membela kepentingan lapisan konglomerat, tokoh-tokoh, birokrat, dan politisi. Namun, antisipasi itu belum cukup, karena ternyata rekan O.C. Kaligis memi­liki parameter yang cukup panjang sehingga tidak tercermin adanya klasifikasi dalam membela klien, yang dalam hal ini adalah rakyat kecil. Selain itu, dalam menangkap “peluang”, rekan O.C. Kaligis menggaris­bawahi pada perkara yang memiliki andil cukup besar dalam membangun sejarah hukum di Indonesia.

Tidak hanya itu, seluruh perjalanan rekan meru­pakan ransum bagi media yang tidak segan-segan berupaya mengupas sisi pribadi yang seolah enggan dikemukakan. Dengan entengnya rekan menyodorkan berbagai karya tulis yang merupakan rekaman atas per­jalanan kariernya selama 36 tahun berkiprah. Berbagai karya tulisnya itu sekaligus menjadi jawaban atas selu­ruh pertanyaan yang dilontarkan.

Rasanya belum cukup panjang saya berbagi pengalaman dengan rekan, namun beberapa hal dapat saya jadikan sebagai kenangan. Sosok rekan saya ibaratkan sebagai mesin waktu yang tidak mengenal perubahan dan batas. Hal demikian saya rasakan saat menangani suatu perkara. Dalam suatu kunjungan ke luar negeri, mulai dari saat keberangkatan sampai masa kunjungan dengan jadwal yang sangat padat, tentulah dirasa berat karena baik anggota rombongan maupun saya sendiri harus melawan perubahan waktu. Namun, saya tidak melihat perubahan dan kepenatan sedikitpun dari rekan. Bahkan, antusiasme yang rekan tunjukkan selama masa kunjungan tidak mempengaruh stamina rekan saat kembali menjalani aktivitas rutin di tanah air.

Akan ke mana rekan setelah ini? Gaya bicaranya yang lugas disertai aksen khasnya mengingatkan bahwa saya akan kehilangan seorang tokoh yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Rekan adalah sosok yang santun dalam pergaulan seprofesi, namun garang ketika “beraksi” di persidangan. Apakah rekan dapat tetap memberikan sumbangan pemikiran dalam membangun citra hukum?

Tapi, mungkin itulah perputaran alur mesin waktu, di mana akhirnya waktu pulalah yang akan menyandarkan rekan untuk beristirahat, memberikan kesempatan bagi advokat-advokat lain yang akan muncul. Jejak langkah positif yang telah rekan ukir dalam langkah panjang dunia advokasi kiranya dapat dijadikan refleksi dan dukungan bagi terwujudnya bangunan citra advokat yang kian retak akhir-akhir ini.

Dengan mundurnya rekan yang sering dipanggil dengan julukan “guru” dari dunia litigasi, kami berharap semoga ini bukanlah akhir dari eksistensi rekan selama ini. Namun, setidaknya seluruh perjalanan yang telah rekan tempuh selama ini dapat dijadikan panutan dalam membangun citra penegakan hukum, khususnya di dunia advokasi. Semoga perjuangan rekan dapat menjadi monumen yang sangat berarti bagi pembangunan hukum di tanah air tercinta ini.

Bravo rekan … Kiranya perjalanan kebersamaan kita dapat dijadikan rangkaian catatan yang berkesan dalam perjalanan karier yang telah rekan tempuh sela­ma ini. Dominus Vobiscum …

“Perbuatan yang kita sebut sekarang sebagai kelemahan, akan muncul besok sebagai penghubung yang mutlak dalam mata rantai rangkaian manusia yang lengkap. Tugas berat yang kita terima tanpa penghar­gaan, akan selalu kita junjung dalam hidup kita, dan akan terlaksana dengan gemilang, mencerminkan ke­agungan kita; dan kesukaran yang kita pikul akan menjadi untaian karangan bunga kehormatan pada kepala

kita    “. (Kahlil Gibran – “Suara Sang Guru”)

 Jakarta, 21 Februari 2002

A Man With Millions Surprise

Juan Felix Tampubolon, S.H., M.H. – Advokat

 

Terkejut, surprise.    Itulah reaksi yang muncul ketika saya mengetahui bahwa rekan Otto Cornelis Kaligis akan meng­undurkan diri dari dunia litigasi, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-60, 19 Juni 2002. Sebenarnya, saya tidak mengetahui alasan yang mendorong rekan mengambil keputusan yang luar biasa itu. Namun, surprise adalah suatu hal yang selalu melekat dengan sosok rekan O.C. Kaligis. He is a man with millions of surprises.

 

Dengan mundurnya rekan O.C. Kaligis dari dunia litigasi, maka rekan-rekan seprofesi dan rekan-rekan profesi terkait lainnya, di samping banyak yang merasa lega karena kehilangan ‘ganjalan’, namun juga lebih banyak yang harus bisa membiasakan diri dan meneri­ma untuk kehilangan satu tokoh fenomenal dalam dunia litigasi.

 

Rekan O.C. Kaligis yang saya kenal adalah sosok yang super dinamis. Hampir setiap kiprahnya selalu menjadi perhatian masyarakat. Tidaklah heran apabila sosok rekan selalu menjadi obyek pembicaraan untuk direka-reka, apakah akan dijadikan nominasi dalam menangani suatu perkara dengan “klasifikasi atas” yang membela kepentingan lapisan konglomerat, tokoh-tokoh, birokrat, dan politisi. Namun, antisipasi itu belum cukup, karena ternyata rekan O.C. Kaligis memi­liki parameter yang cukup panjang sehingga tidak tercermin adanya klasifikasi dalam membela klien, yang dalam hal ini adalah rakyat kecil. Selain itu, dalam menangkap “peluang”, rekan O.C. Kaligis menggaris­bawahi pada perkara yang memiliki andil cukup besar dalam membangun sejarah hukum di Indonesia.

 

Tidak hanya itu, seluruh perjalanan rekan meru­pakan ransum bagi media yang tidak segan-segan berupaya mengupas sisi pribadi yang seolah enggan dikemukakan. Dengan entengnya rekan menyodorkan berbagai karya tulis yang merupakan rekaman atas per­jalanan kariernya selama 36 tahun berkiprah. Berbagai karya tulisnya itu sekaligus menjadi jawaban atas selu­ruh pertanyaan yang dilontarkan.

 

Rasanya belum cukup panjang saya berbagi pengalaman dengan rekan, namun beberapa hal dapat saya jadikan sebagai kenangan. Sosok rekan saya ibaratkan sebagai mesin waktu yang tidak mengenal perubahan dan batas. Hal demikian saya rasakan saat menangani suatu perkara. Dalam suatu kunjungan ke luar negeri, mulai dari saat keberangkatan sampai masa kunjungan dengan jadwal yang sangat padat, tentulah dirasa berat karena baik anggota rombongan maupun saya sendiri harus melawan perubahan waktu. Namun, saya tidak melihat perubahan dan kepenatan sedikitpun dari rekan. Bahkan, antusiasme yang rekan tunjukkan selama masa kunjungan tidak mempengaruh stamina rekan saat kembali menjalani aktivitas rutin di tanah air.

 

Akan ke mana rekan setelah ini? Gaya bicaranya yang lugas disertai aksen khasnya mengingatkan bahwa saya akan kehilangan seorang tokoh yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Rekan adalah sosok yang santun dalam pergaulan seprofesi, namun garang ketika “beraksi” di persidangan. Apakah rekan dapat tetap memberikan sumbangan pemikiran dalam membangun citra hukum?

 

Tapi, mungkin itulah perputaran alur mesin waktu, di mana akhirnya waktu pulalah yang akan menyandarkan rekan untuk beristirahat, memberikan kesempatan bagi advokat-advokat lain yang akan muncul. Jejak langkah positif yang telah rekan ukir dalam langkah panjang dunia advokasi kiranya dapat dijadikan refleksi dan dukungan bagi terwujudnya bangunan citra advokat yang kian retak akhir-akhir ini.

 

Dengan mundurnya rekan yang sering dipanggil dengan julukan “guru” dari dunia litigasi, kami berharap semoga ini bukanlah akhir dari eksistensi rekan selama ini. Namun, setidaknya seluruh perjalanan yang telah rekan tempuh selama ini dapat dijadikan panutan dalam membangun citra penegakan hukum, khususnya di dunia advokasi. Semoga perjuangan rekan dapat menjadi monumen yang sangat berarti bagi pembangunan hukum di tanah air tercinta ini.

 

Bravo rekan … Kiranya perjalanan kebersamaan kita dapat dijadikan rangkaian catatan yang berkesan dalam perjalanan karier yang telah rekan tempuh sela­ma ini. Dominus Vobiscum …

“Perbuatan yang kita sebut sekarang sebagai kelemahan, akan muncul besok sebagai penghubung yang mutlak dalam mata rantai rangkaian manusia yang lengkap. Tugas berat yang kita terima tanpa penghar­gaan, akan selalu kita junjung dalam hidup kita, dan akan terlaksana dengan gemilang, mencerminkan ke­agungan kita; dan kesukaran yang kita pikul akan menjadi untaian karangan bunga kehormatan pada kepala

kita    “. (Kahlil Gibran – “Suara Sang Guru”)

 

Jakarta, 21 Februari 2002

Short URL: http://ockaligis.com/?p=30

Posted by on Nov 7 2011. Filed under Kata Mereka. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

300x250 ad code [Inner pages]

Featured Links

    Search Archive

    Search by Date
    Search by Category
    Search with Google

    Photo Gallery

    120x600 ad code [Inner pages]
    Log in | Modified by Peter S Dahana