Ancaman di Tengah Kasus Nur Usman
Ini teror pertama yang saya alami selama menjadi pengacara, tapi saya tidak akan takut,” ujar O.C. Kaligis yakin. Pada Maret 1984, rumahnya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, disatroni orang-orang tak dikenal yang mengendarai sebuah mobil. Kegaduhan di depan rumahnya yang dibuat para pemuda itu membuat Kaligis sekeluarga terbangun.
Pengacara yang tengah menangani perkara perceraian Nyonya Athiah Kirana dari Nur Usman, pengusaha yang bekas pejabat tinggi Pertamina, itu pun terkejut. Di depan rumahnya, dua kendaraan miliknya – VW kodok dan Corolla DX – kedapatan ringsek. Kaca belakang VW itu bolong di dua tempat dan bagian belakang bodi Corollanya penyok-penyok. Apa pula ini?
Kontan, tak berapa lama setelah itu, sekitar pukul 03.00 dinihari, Kaligis melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Polsek Cempaka Putih. Tak itu saja. Siang harinya, ia melayangkan surat permohonan perlindungan hukum ke alamat Kapolri Jenderal Anton Soedjarwo. Kaligis menghubungkan peristiwa itu dengan kasus yang sedang ditanganinya: gugatan cerai Nyonya Athiah terhadap suaminya, Nur Usman, di Pengadilan Agama Istimewa Jakarta.
Dalam surat kepada Kapolri itu, Kaligis menguak urutan kejadian yang mendahului teror itu. Delapan hari sebelumnya, Sekretaris Kaligis, Yen Yen, menerima telepon gelap yang menyatakan Kaligis akan diculik dan dibunuh. Sehari sebelumnya, ia didatangi famili dekat Nur Usman yang bernama M. Jamil Isa yang mengaku diutus Nur Usman untuk mendamaikan perkara pembunuhan Roy Irwan Bharya dan gugatan cerai Nyonya Thea-panggilan Nyonya Athiah. Tapi, Kaligis tak menanggapinya.
Malah, beberapa jam sebelum teror, para saksi mata menyebutkan adanya sebuah mobil yang mondar-mandir di jalan depan rumah Kaligis. Mobil itu berisi anak-anak muda. Merekalah yang diduga Kaligis sebagai pelaku teror.
Short URL: http://ockaligis.com/?p=62












